Di sana, prosesi disambung dengan Festival Ketupat dan Lepet. Rakyat menyambut meriah dengan iringan marching band dan dua gunungan ketupat-lepet, yang diarak menuju panggung pertunjukan seni di tengah kompleks wisata.
Di tengah semarak festival, berbagai tembang Jawa yang menggambarkan keagungan budaya Jepara turut mengisi acara, memperkuat suasana sakral dan adiluhung. Tembang-tembang ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal dan budaya warisan leluhur terus dijaga dan dirayakan.
Bupati Jepara, Wiwit Utomo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tradisi larungan yang telah ada sejak abad ke-19 ini merupakan bentuk syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki dari laut.
“Tradisi ini bukan menyembah laut, melainkan ungkapan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan alam yang baik dan hasil laut melimpah bagi masyarakat Jepara,” ujar Bupati. Ia berharap Pesta Lomban bisa terus dilestarikan dan menjadi daya tarik wisata budaya di Jepara.
“Semoga tahun depan lebih meriah, lebih tertata dengan manajemen EO yang lebih baik, agar kebudayaan kita makin dikenal luas dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat, terutama para nelayan,” tambahnya.
