“Ancaman tidak lagi konvensional, melainkan perang siber, radikalisme, dan bencana alam yang semakin sering. Semangat bela negara harus menjadi kekuatan kolektif seluruh warga,” jelasnya.
Kompol Hendri juga menyebutkan bahwa saat HBN diperingati, saudara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tengah menghadapi bencana alam. Ketiga wilayah itu memiliki peran sejarah luar biasa: Aceh sebagai “daerah modal” revolusi, Sumatera Utara sebagai pusat perlawanan, dan Bukittinggi (Sumatera Barat) sebagai kelahiran PDRI yang menyelamatkan republik. “Tanpa ketiganya, sejarah bela negara tidak akan lengkap. Mereka adalah fondasi bahwa persatuan adalah kekuatan terbesar,” paparnya.
Ia menuturkan, momentum HBN Ke-77 harus menjadi pengingat bahwa cinta tanah air harus diwujudkan dalam tindakan nyata: membantu korban bencana, menjaga ruang digital dari hoaks, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, dan berkontribusi pembangunan. “Mari bersama-sama tekad: untuk Indonesia yang kuat, maju, dan mampu bangkit menghadapi setiap tantangan,” tuturnya.
