Di belakang delman yang maju tanpa ragu, terlihat 4 sosok besar dengan tinggi 4 meter-an, meliuk-liuk mahkotanya yang tampaknya tersusun dari bulu merak yang indah. Kepala Singa yang gagah menjadi perhatian utama, itu Reog Ponorogo.
Reog adalah seni topeng dan budaya Jawa khususnya dari Daerah Ponorogo. Reog melambangkan kegagahan seorang pemimpin, ketegasan sang kepala wilayah, wibawa para raja-raja, namun selain itu juga melambangkan keanggunan pribadi, kelembutan hati, dan keindahan budi pekerti.
Jelaslah bahwa ROIS hendak berpesan kepada semua hati yang menyatu, bahwa kehadiran mereka kelak sebagai pemimpin yang melayani akan tetap menjaga wibawa dan marwah dengan senantiasa menggunakan hati nurani dan budi pekerti yang luhur nan bijaksana.
Ah, tak terasa, Delman telah sampai pada titik masuk, ROIS dan sang kusir turun, menyapa penuh kehangatan setiap warga yang sudah berkerumun. Perlahan namun pasti keramaian, kebahagiaan, hingar bingar, dan teriak kemenangan menjalar memasuki gedung utama. Suasana yang tadinya sunyi, hanya terdengar suara shalawat yang menggema, kini mulai menyambut pula dengan bahagia. Shalawat yang mengiringi kehadiran sosok pemimpin masa depan semakin menambah keberkahan. Masa tak lagi terbendung, semua tumpah ruah di dalam gedung, saling merapat hendak bertemu ‘Soekarno-Hatta’-nya.
