“Vaksinasi akan dilaksanakan pada April ini. Prioritas sasaran adalah ternak yang dalam kondisi sehat dan tidak sedang bunting,” ujar Wibawanti pada Jumat (18/4/2025).
Lebih lanjut, Wibawanti mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Upaya pencegahan telah gencar dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi mengenai bahaya penyakit zoonosis. Selain itu, langkah-langkah pencegahan lain juga diterapkan, termasuk penyemprotan disinfektan menggunakan cairan formalin sebanyak tiga kali di lokasi ditemukannya kasus.
Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat juga ditekankan, terutama mengenai bahaya penyembelihan bangkai hewan yang berpotensi menularkan penyakit antar hewan maupun ke manusia. “Kasus di Girisubo dipicu oleh aktivitas penyembelihan bangkai hewan. Kami terus menyosialisasikan pentingnya mengubur hewan yang mati untuk meminimalkan risiko penularan antraks,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menyampaikan bahwa kasus antraks di Kapanewon Rongkop dan Girisubo tidak hanya menular antar hewan, tetapi juga ke manusia. Hingga saat ini, tiga warga dinyatakan positif antraks dan dua orang lainnya berstatus suspek. Pihaknya juga terus memantau kesehatan 25 warga yang memiliki kontak dengan hewan positif antraks akibat ikut menyembelih atau membantu mengangkut bangkai ternak. “Masa inkubasi virus menjadi perhatian kami, sehingga pengawasan dan pemantauan kesehatan warga akan berlangsung hingga Mei mendatang,” pungkas Ismono. (***)
