“Untuk mengingat hari kelahiran, saya mengadakan wilujengan atau selametan dilanjut pementasan anak-anak didik sanggar padepokan Yayasan Makhuta Rama,” kata Hadi Purwanto.
Ia menambahkan, dirinya mengadopsi dalang-dalang besar seperti Ki Anom Suroto setiap ‘Rabu Legen’ gelar tradisi weton. Pada gelaran tersebut, dalang-dalang diberi kesempatan untuk main tampil pentas.
“Disitu kita menimba ilmu juga, karena sebaik-baik dalang, pasti dalang ada kekurangannya,” tambahnya.
Sebelum pentas wayang kulit, digelar pentas seni tari sekaligus memberi kesempatan kepada anak-anak didik untuk giat belajar. Sebab latihan terus tanpa pementasan menjadi monoton, pada akhirnya membosankan.
“Kami akan mengelar pementasan ini setiap dua bulan sekali, bahkan setiap weton 35 hari. Mengingat semua itu butuh biaya,” jelas Hadi Purwanto.
Ia berharap, pihak birokrasi dan pemangku jabatan agar bisa mensupport dan membantu anggaran untuk kegiatan, supaya generasi muda bisa ikut melestarikan kebudayaan leluhur.
(sus)
