Dengan ilmu yang diperoleh, Tri Ningsih dan teman-temannya mengembangkan pekarangan masing-masing untuk menanam sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, dan tanaman obat. Tanaman tersebut tumbuh dengan baik berkat penggunaan pupuk organik.
Kini, ibu-ibu KWT Kemuning tidak lagi khawatir dengan harga bahan pangan karena bisa memetik hasil panen sendiri dari pekarangan, sehingga dapat menghemat biaya belanja hingga Rp200 ribu-Rp300 ribu per minggu.
Hasil panen tidak hanya digunakan untuk kebutuhan keluarga, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti wedang beras kencur, jamu seduh instan, wedang kunyit asam, dan bibit tanaman siap tanam. Setiap produk dijual dengan harga antara Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, dengan omzet bulanan mencapai Rp1 juta.
“Kita jadikan tantangan sebagai daya dorong. Yang terpenting adalah kita kompak dan saling mendukung. Kami berharap masyarakat sekitar juga bisa ikut meraih kemandirian dengan memanfaatkan potensi dari rumah masing-masing,” ujar Tri Ningsih.
KWT Kemuning juga berbagi ilmu yang didapat dari program Pertamina dengan komunitas lain, hingga saat ini menjadi pusat pembelajaran bagi 13 KWT lainnya di Kota Prabumulih.
