Puncak keteguhan budaya tergambar jelas dalam pagelaran sendratari kolosal “Ratu Kalinyamat” di sepanjang jalur kirab. Kisah keberanian perempuan Jepara melawan kolonial Portugis ini kembali hidup dalam sorak sorai warga desa, seolah sejarah tak pernah pudar.
Komitmen Melestarikan Tradisi dan Harapan ke Depan
“Ini bukan hanya kirab, ini adalah napas budaya kita. Saya bangga Jepara punya desa seperti Kecapi, yang setia menjaga tradisi sedekah bumi secara turun temurun,” ujar Agus Sutisna. Ia berharap kirab budaya ini dapat terus dilestarikan setiap tahun, bahkan dibuat lebih meriah di masa mendatang sebagai wujud syukur atas hasil bumi dan kehidupan yang terus tumbuh di desa ini.
Meskipun cuaca cukup menyengat, semangat masyarakat tidak surut. Di tengah keramaian, patung Ratu Shima, simbol awal mula penamaan Desa Kecapi, diarak dengan khidmat, bersama miniatur tugu monumen Desa Kecapi. Miniatur tersebut kemudian diserahkan secara simbolis kepada Petinggi Sukambali, disaksikan oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Andang Wahyu Tri, serta Camat Tahunan, Nuril Abdillah.
