“Padahal kami dijatah oleh pangkalan. Harga hanya Rp19 ribu. Tetapi kadang minta lebih, Rp22 ribu, malah pernah minta Rp25 ribu. Tapi kami harus maklum, pangkalan kadang kehabisan stok lalu mencari di tempat lain. Katanya sampai Grabag atau Muntilan,” ujar seorang pedagang yang enggan disebut namanya.
Keluhan serupa juga datang dari penjual batagor keliling di Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan. Ia mengatakan bahwa masalah bukan hanya pada harga, tetapi juga pada ketersediaan gas LPG.
“Harga kadang Rp21 ribu, kadang Rp25 ribu/tabung. Kalau harga jelas tidak masalah. Yang bikin pusing itu kalau kosong tidak ada. Nyari gas kok susah amat,” katanya.
Konsumen pun turut merasakan dampak dari permasalahan ini. Nurul, seorang konsumen yang biasa membeli LPG dari pengecer dengan harga Rp20 ribu hingga Rp21 ribu/tabung, kini harus membayar lebih hingga Rp25 ribu/tabung.
Staf Ahli Perdagangan Tri Handayani menjelaskan bahwa rapat pembenahan tata kelola LPG akan membahas rencana pemerintah untuk mengubah status pengecer menjadi pangkalan.
