Selain teori, madrasah memfasilitasi siswa dan santri untuk mempraktikkan ilmu fikih secara langsung. Praktik ibadah tersebut meliputi manasik haji, pemulasaran jenazah, thaharah, rebana, tahlilan, istighosah, manakiban, hingga tata cara penyembelihan hewan kurban. Seluruh panduan praktik ini telah dibukukan dalam sebuah kitab karya Ketua Yayasan sendiri yang berjudul “Adzkar as-Shalihin wa Athibba’ al-Mukhlisin”.
Efektivitas program ini didukung oleh integrasi fasilitas kelembagaan. Dalam satu Kompleks Al-Ikhlas, terdapat empat unit lembaga yang saling berkolaborasi, yaitu Pondok Pesantren Tahfidz Quran, Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), serta Madrasah Diniyah (Madin) tingkat Ula, Wustho, dan Kelas Takhasus.
Menariknya, kegiatan ekstrakurikuler di madrasah ini memiliki keunggulan kompetitif dibanding lembaga lain, yakni fokus pada penguasaan IT melalui keterampilan digital dan pelatihan pembuatan konten sosial berbasis keagamaan. Komitmen ini membuahkan hasil nyata, di mana para siswa kerap menorehkan prestasi dalam berbagai lomba pembuatan konten edukatif, di samping kebiasaan produktif mereka dalam menyusun konten digital untuk tugas madrasah.
