Sementara itu, 4 RW yang terindikasi bukan kawasan kumuh berada di luas total permukaan 20.49 ha. Di wilayah itu, masih ada beberapa rumah yang ukurannya sangat kecil layaknya kamar kosan tapi dihuni banyak orang. Salah satu yang viral adalah rumah Nenek Hasna yang hanya seluas 2×3 meter (m), tetapi dihuni 13 orang termasuk anak, cucu, dan cicitnya.
Untuk tidur, keluarga Nenek Hasna harus saling meringkuk, bahkan menerapkan sistem shift-shiftan setiap harinya. Selain rumah-rumah yang berhimpitan di gang-gang sempit, permukiman seperti itu juga minim terhadap akses fasilitas dasar, seperti kamar mandi layak. Sebagian besar rumah di kawasan Tanah Tinggi diketahui tidak memiliki kamar mandi sehingga warga harus menggunakan WC umum dengan biaya Rp 2.000 per penggunaan.
Wilayah permukiman padat, seperti di Tanah Tinggi, menyebabkan mobilisasi sulit. Sebab, gang-gang semakin sempit dengan barang-barang milik warga, seperti motor, sepeda, alat masak, hingga jemuran yang diletakkan di sepanjang jalan karena kondisi rumah kecil. “Bayangkan kalau terjadi kebakaran, api akan cepat menyebar, dan berpotensi mengancam nyawa. Ini sudah terjadi di sejumlah daerah padat penduduk,” ujarnya. Cucun mengatakan, ada aspek keamanan dan keselamatan dari bencana terkait masalah permukiman padat. Adapun daerah Tanah Tinggi diketahui kerap terjadi tawuran warga sehingga tak jarang warganya berurusan dengan pihak berwajib. (***)
