Namun, satu pertanyaan mendasar masih membutuhkan jawaban: bagaimana ulat bisa ditemukan dalam makanan yang disalurkan kepada siswa.
Pihak sekolah mengakui bahwa jumlah ompreng yang harus diperiksa mencapai ratusan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan setiap porsi makanan benar-benar layak dikonsumsi.
Meski demikian, banyaknya jumlah makanan yang harus disalurkan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pengendalian mutu dan keamanan pangan.
Pemeriksaan makanan, kualitas bahan baku, kebersihan peralatan, proses memasak, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi merupakan mata rantai yang perlu diawasi secara konsisten.
Sebab, apabila terdapat masalah pada salah satu tahapan tersebut, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh para siswa sebagai penerima manfaat.
Hingga kini, berdasarkan keterangan pihak sekolah, penyebab pasti kemunculan ulat belum dapat dipastikan. Karena itu, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menelusuri sumber persoalan secara objektif, bukan sekadar mengandalkan dugaan atau penjelasan sepihak.
